Berita

Ragam Investasi Halal dalam Pasar Modal Syariah

Artikel Tanggal: Kamis, 04 April 2019


Sebelumnya telah kita pahami bahwa investasi dapat membantu perekonomian negara. Tetapi, ada kalanya sebagian dari kita masih takut untuk berinvestasi karena dianggap tidak sesuai syariat Islam. Untuk menjawab hal tersebut, OJK bersama dengan Bursa Efek Indonesia dan MUI telah membuka Pasar Modal Syariah yang ketentuannya terdapat pada Fatwa DSN MUI No.80/DSN-MUI/III/2011 dan POJK/15/D.04/2016. Menurut kedua aturan tersebut, dalam pasar modal syariah, terdapat akad jual-beli dengan kesepakatan pada harga, jenis dan volume melalui tawar menawar (Akad Ba'i Al-Musawamah).


Selain itu, instrumen investasi dalam pasar modal syariah, mempunyai berbagai kriteria seperti:

Tidak berasal dari kegiatan usaha seperti perjudian dan perdagangan yang tidak sesuai syariah.

Tidak berasal dari jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian.

Tidak berasal dari produksi dan distribusi barang haram yang dapat merusak moral, termasuk transaksi suap.

Tidak berasal dari jasa keuangan yang mengandung riba dengan syarat rasio utang berbasis bunga berbanding dengan total aset sebesar ≤45%.

Rasio pendapatan non-halal terhadap total pendapatan ≤10%.


Pasar modal syariah memiliki beberapa instrumen investasi sebagai berikut:
Saham Syariah
Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) memuat daftar saham dalam Bursa Efek Indonesia dan Daftar Efek Syariah (DES) yang termasuk kategori syariah. Saat ini sudah terdapat 400 lebih emiten yang terdaftar. Setiap enam bulan sekali daftar tersebut selalu diperbaharui.

Reksa Dana Syariah
Secara mekanisme, reksa dana syariah tidak berbeda jauh dengan reksa dana konvensional. Walau begitu, aset investasi dalam reksa dana syariah cukup berbeda, yaitu saham syariah, sukuk korporasi, sukuk negara, pasar uang syariah dan instrumen efek syariah lainnya. Selain itu, hal yang sangat membedakan reksa dana konvensional dan reksa dana syariah adalah portofolio investasi hanya pada efek yang termasuk pada Daftar Efek Syariah, terdapat mekanisme pembersihan kekayaan non-halal, serta mendapatkan pengawasan dari Dewan Pengawas Syariah.

Sukuk
Sertifikat kepemilikan aset yang diterbitkan oleh pemerintah ataupun korporasi dengan jangka waktu tertentu disebut sebagai sukuk atau obligasi syariah. Return yang diperoleh dari sukuk berdasarkan uang sewa (ujrah) dengan persentase tertentu yang akan dibayarkan secara rutin dengan periode tertentu dan nilai pokok pinjaman yang akan dibayarkan secara rutin. Terdapat beberapa sukuk syariah, yaitu sukuk ijarah, sukuk mudharabah, sukuk musyarakah, dan sukuk istishna.

Efek Beragunan Aset (EBA) Syariah
Surat partisipasi (EBAS-SP) merupakan bentuk dari efek beragunan aset syariah yang diterbitkan oleh penerbit akad dan portfolio pembiayaan pemilikan rumah atau kendaraan yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. EBA Syariah ini juga sudah berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 121/DSN-MUI/II/2018, tentang Efek Beragunan Aset Berbentuk Surat Partisipasi (EBA-SP).

Dana Investasi Real Estate (DIRE) Syariah
Dana yang dihimpun dari masyarakat untuk diinvestasikan pada aset real estate, aset yang berkaitan dengan real estate atau efek pada perusahaan real estate yang tercatat di BEI atau diterbitkan oleh perusahaan real estate. OJK telah mengatur mengenai hal ini dalam POJK No. 30/POJK.04/2016.

Oleh sebab itu, saat ini, melakukan investasi sangatlah mudah, aman dan halal. Yuk mulai pahami mengenai reksa dana syariah! Investasi? Ya reksa dana aja! Let's Having Funds!

Penulis: Syahzanan Haunan Fatharani
Sumber Gambar: freepik.com
X

X